Minggu, 20 Mei 2018

Ada apa hari ini?

Hallo, pagi datang lagi. Cuma resolusi apa lagi? .
Masih di tempat tidur? Wah gawat.
Waktu tidak menunggumu gaess. Selesaikan segera urusanmu. Masaa iya maut menjemputmu dalam keadaann yang tidak baik.
Puasa ke-5, apa adaa perubahan dalam diri anda?
Tidak? Coba cari masalahnya. Ini bulan suci bulan penuh ampunan bukan nambah dosa atau berleha-leha dengan dunia. Bukan ajang buat pamer menu buka puasa, bukan ajang pamer pake mukena atau kopiah, bukan ajang nunjukin bahwa kamu sedang begadang menantikan sahur kemudian tidur lelap hingga waktu berbuka tiba.
Coba cek lagi buku kalian, tanya lagi guru mengaji kalian, atau Dm saja uztnya kan  sdh canggih nih. Taanya amalan bualana puasa apa saja????
Tidur, tidur ibadah. Baik tidur ibadah, tapi tidur yang seperti apa? Tolong dong jangan mempelajari sesuatu secara parsial. Objektif lah. Umur berapa? Masa pikiran masih disitu sotu saja.
Kasar yah? Heheh manusia punya caranya untuk beropini dan mengingatkan. Lah saya tipe manusia seperti ini. Hehe

Terimakasih dan mohon maaf 😊😊

Ada apa hari ini?

Hallo, pagi datang lagi. Cuma resolusi apa lagi? .
Masih di tempat tidur? Wah gawat.
Waktu tidak menunggumu gaess. Selesaikan segera urusanmu. Masaa iya maut menjemputmu dalam keadaann yang tidak baik.
Puasa ke-5, apa adaa perubahan dalam diri anda?
Tidak? Coba cari masalahnya. Ini bulan suci bulan penuh ampunan bukan nambah dosa atau berleha-leha dengan dunia. Bukan ajang buat paner menu buka puasa, bukan ajang pamer pake mukena atau kopiah, bukan ajang nunjukin bahwa kamu sedang begadang menantikan sahur kemudian tidur lelap hingga waktu berbuka tiba.
Coba cek lagi buku kalian, tanya lagi guru mengaji kalian, atau Dm saja uztnya kan  sdh canggih nih. Taanya amalan bualana puasa apa saja????
Tidur, tidur ibadah. Baik tidur ibadah, tapi tidur yang seperti apa? Tolong dong jangan mempelajari sesuatu secara parsial. Objektif lah. Umur berapa? Masa pikiran masih disitu sotu saja.
Kasar yah? Heheh manusia punya caranya untuk beropini dan meningatkan. Lah saya tipe manusia seperti ini. Hehe

Terimakasih dan mohon maaf 😊😊

Jumat, 16 Juni 2017



ANALISIS NOVEL “AND THIS LOVE GOES TO YOU” KARYA GLORY CHRISTABELLE:
                                              PSIKOLOGI SIGMUND FREUD

Judul Novel                 : And This Love Goes To You
Penulis                         : Glory Christabelle
Penerbit                       : Gagas Media
Jml. Halaman              : 262 halaman
Cetakan ke                  : I, 2008

            Novel “And This Love Goes To You” menceritakan tentang kisah seorang gadis yang berpenampilan maskulin dengan kisah cinta yang rumit dan menyakitkan. Mulai dari kasih cinta kedua orang tuanya hingga kisah cintanya sendiri bersama mantan dan calon kekasih. Ketidaksetiaan sang ayah dan kekasihnya membuat Sam membenci laki-laki dan meragukan kesetiaannya. Alur novel ini menggambarkan sebuah pengkhianatan namun dengan akhir cerita yang bahagia.  Penulis novel ini akan membawa kita merasakan rasa sakit, luka, melupakan, dan keberanian untuk menetapkan pilihan.
“Untuk menyembuhkan luka, kita harus berani menyentuh bagian yang sakit terlebih dahulu”.
A.    ANALISIS ID, EGO, SUPEREGO
·         Tokoh : Samantha
1.      Id           
Rumahnya terasa lengang. Sekosong hatinya. Entah karena apa, malam ini Sam begitu sentimentil. Rasa sepi dan kosong hingga tersa begitu menusuk.
( Paragraf 2, halaman 13).

Ego
Sam tergelak sinis. Ia membayangkan hidup sendirian sampai tua dan mati tanpa seorangpun mengetahuinya. Ia tidak boleh berpikir yang bukan-bukan. (Paragraf 2, halaman 13).

Super ego
Sebuah ide muncul di kepala Sam. Tiga kamar kosong, selembar karton, dan spidol besar. Sempurna. Ia mulai menulis sesuatu dan memasangnya di depan rumah.  (Paragraf 2, halaman 13).



2.      Id
Rasa sepi menyusup ke dalam hati Sam. ( paragraf 11, hal 63 )

Ego
Sam kembali berusaha memusatkan perhatiannya ke layar komputer.... sebuah luka lama kembali mengusik hati dan ingatannya. Sam berusaha menolak kenangan pahit itu. ( paragraf 3, hal 64 )

Super Ego
Ia mengentakkan mouse jengkel, bangkit dari kursinya, kemudian pergi membuat kopi ( paragraf 4, hal 64 )

3.      Id
Sam terdiam . Apa yang harus dilakukannya untuk menanggapi ajakan denis ? sam benar-benar bingung. Dadanya berkecamuk. Pikirnya campur aduk jadi satu. (paragraf 1, halaman 111)

Ego
Kapan lagi, Sam ? kapan lagi bisa nonton sama Denis ? Selama ini bukankah elo bener-bener merindukan dia ? Ayolah, Sam  kalau dulu Denis pernah direbut orang, sekarang giliran elo untuk ngerebut balik.
Jangan sam. Apa elo lupa sakitnya diduain? Oke , cewek itu emang nggak banget. Tapi kan, tetep aja dia pacar Denis yang sekarang. Jangan ngerusak hubungan orang... (paragraf 2, halaman 111)

Super Ego
... kalo mau nonton, boleh-boleh aja. (paragraf 8, halaman 111)


·         Tokoh : Adi
1.      Id
Adi selalu dibanggakan sebagai penerus keluarga. ( paragraf 65, halaman 18)

Ego
Sudah bertahun-tahun Adi menjadi anak yang baik, hingga akhirnya kekosongan hati mebuatnya bergerak. Ia tidak bisa membiarkan dirinya tenggelam dalam rutinitas yang dibencinya. Ia harus melakukan sesuatu. ( paragraf 65, halaman 18)

Super ego
Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya. ( paragraf 65, halaman 18)




·         Tokoh : Vania
1.      Id
Vania memerhatiakn Sam sejak tadi ( paragraf 21, halaman 6)

Ego
Mungkin inilah momennya bagi Vania. Kapan lagi ia bisa bertemu sosok yang memesona seperti ini? ( paragraf 21, halaman 6)

Super Ego
“Hai, Vania.” Ucap vania mengulurkan tangan dan tersenyum sumringah.  (paragraf 22, halaman 6).

Sam beranjak pergi, namun tangan Vania menahannya. “ Boleh minta nomor hp kamu?” ( paragraf 24, halaman 6).

2.      Id
Kepercayaan dirinya runtuh seketika ( paragraf 33, halaman 6)

Ego
Kakinya gatal ingin membawanya kabur sekarang juga, meninggalkan kantor impiannya, menyembunyikan wajahnya di dalam tanah seperti burung unta.
(paragraf 33, halaman 6)

Super Ego
Vania histeris sambil mendaratkan tamparan di pipi Sam , lalu berlari sekencang-kencangnya, bagaikan pelari tercepat sedunia, masuk kedalam toilet terdekat dan menolak untuk keluar hingga berjm-jam kemudian. ( paragraf 37, halaman 8)

·         Tokoh : Pak Ivan
1.      Id
Pak Ivan membelalak. Ia mulai bisa menduga arah pembicaraan ini ( paragraf 29, halaman 7)

Ego
Tapi, terlalu sayang jika ia menghentikannya sekarang. Sama seperti orang-orang lain, dirinya pun kadang-kadang butuh hiburan. Dan, percakapan ini bisa menjadi tontonan yang menarik baginya. ( paragraf 29, halaman 6)

Super Ego
Ia menahan diri untuk tidak tersenyum geli ( paragraf 29, halaman 6)
Pak Ivan terbatuk-batuk, berusaha menutup tawanya yang nyaris meledak. ( paragraf 32, halaman 6)

Senin, 15 Mei 2017

Sebuah puisi tentang senja



SENJA TELUK
Sukmah Khofifah


Teluk didamba, tiada tara
Angin merayu
Mendayu
Di senja yang sendu

Langit belum gelap
Wajahnya hangat
Pipinya merah
Dimerahkan senja

Senja teluk merona
Laut menjingga, tenang berbisik
Hilang segala gunda
Mendamba aku padanya

Ini senja teluk mempesona
Teluk mutiara Khatulistiwa
Indahnya merasuk sukma
Ikhlas di ingatan sampai lama

Minggu, 14 Mei 2017

cerita tentang ?



NOSTALGIA
Ada hal yang tidak bisa diungkapkan dengan lisan. Bisa jadi itu menyakitkan atau mungkin mendadak membuat kita tersenyum manis. Tapi satu hal yang harus kita lakukan yaitu bersyukur. Bersyukur masih bisa membuka mata untuk menatap hari, bersyukur masih bisa tersenyum, bersyukur pula pernah menjadi bagian dari kehidupanmu. Ini bukan tentang aku dan dia, bukan tentang siapa yang pernah singgah, tapi ini tentang sebuah makna, makna kehilangan­­ kehidupan.

Langit jingga nampak menjatuhkan warnya di birunya lautan. Terasa angin mendekap jiwa di atas pasir putih ini.  Dian tertunduk. Kenangan di masa lalu kembali menghujani ingatan. Entah apa yang membawanya kesana.

Seragam putih abu-abu, tinggi kurang lebih 160 cm, tubuh kurus, hitam manis, dengan ransel berwarna hitam pagi itu memasuki ruang kelas bersama seorang guru wanita. Seorang guru wanita itu, aku mengenalnya. Dia wali kelasku. Tetapi, lelaki itu? Yah sangat asing bagiku. Tepat. Dia adalah siswa baru di kelasku. Kelas XA. Aku adalah siswa yang paling pertama menyapanya.Aku memang selalu begitu, kelihatnnya terlalu ramah. Waaah.Siapa sangka ternyata dia menjadi bagian dari cerita hidupku.
“Piiiiiip.....piiiiip.....piip.....”. Suara klakson motor serentak menyadarkan Dian dari lamunannya. Pantai ini memang agak ramai, ramai oleh para nelayan dan anak muda yang hilir mudik bersama pasangannya. Kembali Dian menatap senja itu. Tampak matahari mulai melambai dari balik gunung. Rasanya mulai kehilangan sinarnya. Dian bangkit dari hamparan pasir putih pantai itu dan kembali ke kontrakan. Pantai memang tempat terbaik melepas penat walaupun di puncak gunung jauh lebih indah.
Ada hal yang belakangan ini mengganggu pikiran Dian. Walau dengan berbagai kesibukan yang ia lewati setiap hari, tetap saja di kala lelah selalu ada jembatan yang mengembalikan pikirannya ke masa itu. Masa itu terasa samar-samar. Biar saja waktu yang memberi keterangan atas semua keburaman masa itu. Selalu ada harapan indah yang muncul dalam benak. Terlalu naif jika ada yang mengatakan tidak butuh kenyataan untuk sebuah harapan indah. Sosok yang sangat menyebalkan. Yang tidak pernah membiarkanku berekspresi di sosial media dengan segala komentar buruknya. “Cukup . Aku ingin segera bangkit dari setengah sadarku”. Tiba-tiba Dian teringat akan janjinya  pada Ralin untuk menemaninya ke toko buku. Ralin sahabat kecil Dian yang paling setia dan bawel. Mereka  selalu menikmati hari bersama, bermain bersama. Bicara tentang cinta, Ralin jagonya. Dia mengenal cinta sejak SMP. Dian selau setia mendengarkan curhatan Ralin dan Ralin menggap Dian sebagai penasehat cintanya. Wah, itu hal yang aneh menurut  Dian. Bagaimana bisa, Dian yang boleh jadi dikatakan terkaku soal cinta di dengarkan nasehatnya. Hingga saat ini di bangku kuliah mereka masih bersama walau jurusan dan tempat tinggal yang berbeda.
“Let...let !”
“Iya, tunggu !”
Ralin telah menunggu di depan rumah kontrakan Dian. Ralin memang punya panggilan khusus untuk Dian. Padahal sudah sekian kali Dian melarangnya. Eh tetap saja dipanggilnya lelet. Seperti biasanya, diperjalanan Dian  selalu mendengar celotehannya yang tak berujung layaknya setahun tak bertemu dengan setumpuk curhatannya. Mungkin Ralin telah ditakdirkan lahir dengan selaksa curahan hati setiap hari. Untung saja Dian tipe manusia yang memiliki sedikit kesabaran, apalagi sudah terbiasa dengan celotehnya. Jika satu hari saja absen dengan curhatan Ralin rasanya bunga-bunga di taman terlihat layu.
Rasa lelah kembali menggerogoti sukma sepulang menemani Ralin. Dian merebahkan dirinya di tempat tidur kamarnya yang mulai kehilangan empuknya. Menatap sejenak telepon genggam yang sunyinya menyaingi pemakaman umum. Ia letakkan telepon genggamnya dan menatap langit-langit kamar yang mulai mengantarkannya kembali ke masa itu.  
Bel sekolah berbunyi, semua siswa segera berbaris rapi di lapangan untuk mengikuti upacara bendera senin itu. Di kelas, Dian masih sibuk mengotak-atik tasnya. Ada satu benda yang ia  lupakan dan itu perkara besar. Dian bisa di hukum karenanya. Ia lupa membawa topi sekolahnya. Tiba-tiba, di depan kelas melintas sosok laki-laki yang menggunakan seragam putih-putih dengan slayer kuning yang terikat di lehernya. Dian  tersentak.
“Deeen ... Adeeeeen.......!” Dia terlihat melangkah mundur, Dian bergegas berlari menujunya.
“ Apa kau membawa topi sekolahmu?”
Tanpa berkata-kata dia segera menuju ruang kelas dan kembali kehadapanku dengan sebuah topi ditangannya. Dia memberi topi, lalu segera menghilang dari hadapan Dian tanpa sepatah kata. Dian pun bergegas lari menuju lapangan, karena upacara segera di mulai.
Saat-saat terakhir di SMA menuju ujian nasional. Ada hal yang tidak disangka. Ada benih yang mulai Ia tanam, Ia tanam di hati.  Aden mengungkapkan isi hatinya pada Dian. Keraguan mulai merangkak masuk ke dalam pikiran. Dulu memang pernah ada rasa di hati Dian , tapi itu dulu. Seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai hilang dari dalam hati. Saat Dian mulai kehilangan rasa cinta itu dan menanggapnya sebagai teman biasa, Aden  justru baru mengungkap semuanya. Rasa di hati Aden telah lama tersimpan sejak sapaan Dian diawal jumpa. Segala aktivitas kecil, masih ada dalam memori Aden. Rasa sungkan untuk menolak, menerima juga tidak sanggup. Alasan lain, saat itu Dian masih terlalu kaku soal cinta. Dian memaksakan hatinya  untuk menerima walau kesan tulus itu telah hilang. Menyembunyikan hubungan dari teman-teman Dian jadikan syarat utama, Ia menyetujuinya. Bahkan Ralin, serta teman dekatnya  yang  lain sekalipun tak mengetahui tentang hubungan ini.  Sangat tak Dian percaya mereka menjalin hubungan lebih dari teman. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang mencoba permainan baru. Menakutkan, penasaran. Ia ingin mengakhiri hubungan ini segera. Ia merasa terbebani. Hingga suatu hari, teman dekat Dian bertanya keanehan yang terjadi padanya dan Aden. Dian selalu berkata tidak . Ia merasa seperti menjadi wanita termunafik saat itu. Ralin sendiri selalu berpikir bahwa isu itu hanya fitnah. Di sisi lain, teman-teman Aden mengetahui hubungan itu. Dengan sendirinya kebohongan Dian diketahui oleh teman-teman Dian. Mereka marah, Ia merasa terasingkan. Kecuali Ralin, yang selalu menyemangatinya dan kadang menyalahkan Dian. Ia tak tau apa yang seharusnya Ia lakukan. Tiba masa, Dian mengakhiri hubungannya dengan alasan yang tidak masuk akal. Perasaannya merasa lega saat itu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu Dian mulai menyadari bahwa Ia telah melakukan kesalahan. Tak ada kawan Aden yang berpandangan baik tentangnya. Mereka seolah marah terhadap tindakan Dian. “Kepada siapa aku harus mengadu ? kawan dekat? Mereka juga seolah-olah sering mengacuhkanku sebab kebohonganku. Ralin? Ia yang selalu sibuk , kadang menyemangati kadang menyalahkanku. Kepada Tuhan? Tidak! Aku terlalu munafik. Aku merasa sangat tersisihkan dari mereka semua. Aden sendiri, ia tak pernah menghiraukanku. Tak pernah menggangguku di sosmed. Aku mulai merasakan kerinduan”.
Kehebohan pagi itu, ketika Dian lewat di depan kelas Aden. Dian hanya menunduk dan berlalu tanpa menghiraukan mereka. Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki menujunya. Laki-laki dengan badan kurus berkulit putih. Ia biasanya di panggil Oi. Ia adalah sahabat setia Aden. Ia menyampaikan sebuah berita. Dian saat itu tidak terlalu menghiraukan Oi sebab Oi terlalu banyak basa-basi. “ Diaaaaaaaan, Aden kecelakaan” ! Dian tersentak dan memalingkan wajahnya ke arah Oi. “ Hari masih pagi Oi, aku tak butuh leluconmu”. “Aku serius. Pantang lelaki sepertiku berbohong di pagi hari yang cerah ini !”. Dengan gaya ala artis koreanya Ia beralih dari hadapan Dian. Pikiran Dian mulai tak karuan. Rasa bersalah semakin menggerogoti. “ Bagaimana jika dia mati? Aku belum sempat meminta maaf padanya”. Pikiran dan pertanyaan aneh menari-nari di kepala Dian. Dian merasa mulai gila  dibuatnya. Dian mencoba menanyakan kabarnya dengan mengirim DM melalui twitter padanya. Lima jam setelah Dian mengirim pesan, pesannya terbalaskan.
“ Baik. Terima kasih”
Singkat.“Ia tak pernah seperti ini”. Dian mulai menyalahkan dirinya sendiri. Namun, keegoisan dalam dirinya  menentang perasaan bersalahnya. Muncul pikiran untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan perasaan Aden. Aneh sekali.
Dua hari Aden tak terihat, akhirnya Ia masuk sekolah juga. Senyuman manisnya di tutupi oleh wajah pucatnya. Ingin rasanya Dian menyapanya. Tapi keegoisannya kembali membentak tindakan Dian. Ia mengurungkan niatnya. 

Acara prom night malam itu, boleh dikatakan malam terakhir pertemuan Ia bersama Aden. Mereka sempat bertegur sapa dan berjabat tangan. Walaupun keesokan harinya Dian mendapat DM di twitternya dari Aden.
“Maafkan, maaf pernah membuatmu terbebani. Terbebani oleh perasaanku dan sikap kawan-kawanku. Terima kasih pernah singgah di hati. Aku pamit”.Sejak saat itu, Dian tak pernah lagi bertemu dengan Aden. Kontak dan semua akun sosialnya kini tak digunakan lagi.

Kembali tersadar Dian dari kenangannya. Terlihat jam dinding menunjukkan pukul 03:00. Kali ini ia sungguh merasa penyesalannya membawanya pada kenangan yang tak pernah berhenti. Ia mencoba bangkit. Ada hal yang tidak pernah disangka dalam hidup ini, setiap kejadian adalah ketetapan. Di balik ketetapan tersebut selalu ada maksud. Dia hadir dan memberi perubahan dalam hidup Dian. Memberi keberanian dan mengajarkan tentang ketulusan. “Seharusnya, aku bersyukur dengan apa yang terjadi. Bukan menyesali atau bahkan mencaci kehidupanku sendiri apalagi menyalahkan orang lain. Walau ku tahu kini dia tak lagi disisi, tapi hati ini belajar untuk bersyukur karena aku yakin maksud Tuhan lebih indah”. Pengalaman mengajarkan kita untuk lebih kuat dan bersyukur. Tentunya terlepas dari kemungkinan melakukan kesalahan yang sama.