NOSTALGIA
Ada hal yang
tidak bisa diungkapkan dengan lisan. Bisa jadi itu menyakitkan atau mungkin
mendadak membuat kita tersenyum manis. Tapi satu hal yang harus kita lakukan
yaitu bersyukur. Bersyukur masih bisa membuka mata untuk menatap hari, bersyukur
masih bisa tersenyum, bersyukur pula pernah menjadi bagian dari kehidupanmu.
Ini bukan tentang aku dan dia, bukan tentang siapa yang pernah singgah, tapi
ini tentang sebuah makna, makna kehilangan kehidupan.
Langit jingga nampak menjatuhkan warnya di birunya
lautan. Terasa angin mendekap jiwa di atas pasir putih ini. Dian tertunduk. Kenangan di masa lalu kembali
menghujani ingatan. Entah apa yang membawanya kesana.
Seragam putih abu-abu, tinggi kurang lebih 160 cm,
tubuh kurus, hitam manis, dengan ransel berwarna hitam pagi itu memasuki ruang
kelas bersama seorang guru wanita. Seorang guru wanita itu, aku mengenalnya.
Dia wali kelasku. Tetapi, lelaki itu? Yah sangat asing bagiku. Tepat. Dia
adalah siswa baru di kelasku. Kelas XA. Aku adalah siswa yang paling pertama
menyapanya.Aku memang selalu begitu, kelihatnnya terlalu ramah. Waaah.Siapa
sangka ternyata dia menjadi bagian dari cerita hidupku.
“Piiiiiip.....piiiiip.....piip.....”. Suara klakson
motor serentak menyadarkan Dian dari lamunannya. Pantai ini memang agak ramai,
ramai oleh para nelayan dan anak muda yang hilir mudik bersama pasangannya.
Kembali Dian menatap senja itu. Tampak matahari mulai melambai dari balik
gunung. Rasanya mulai kehilangan sinarnya. Dian bangkit dari hamparan pasir
putih pantai itu dan kembali ke kontrakan. Pantai memang tempat terbaik melepas
penat walaupun di puncak gunung jauh lebih indah.
Ada hal yang belakangan ini mengganggu pikiran Dian.
Walau dengan berbagai kesibukan yang ia lewati setiap hari, tetap saja di kala
lelah selalu ada jembatan yang mengembalikan pikirannya ke masa itu. Masa itu
terasa samar-samar. Biar saja waktu yang memberi keterangan atas semua
keburaman masa itu. Selalu ada harapan indah yang muncul dalam benak. Terlalu
naif jika ada yang mengatakan tidak butuh kenyataan untuk sebuah harapan indah.
Sosok yang sangat menyebalkan. Yang tidak pernah membiarkanku berekspresi di
sosial media dengan segala komentar buruknya. “Cukup . Aku ingin segera bangkit
dari setengah sadarku”. Tiba-tiba Dian teringat akan janjinya pada Ralin untuk menemaninya ke toko buku. Ralin
sahabat kecil Dian yang paling setia dan bawel. Mereka selalu menikmati hari bersama, bermain
bersama. Bicara tentang cinta, Ralin jagonya. Dia mengenal cinta sejak SMP. Dian
selau setia mendengarkan curhatan Ralin dan Ralin menggap Dian sebagai
penasehat cintanya. Wah, itu hal yang aneh menurut Dian. Bagaimana bisa, Dian yang boleh jadi
dikatakan terkaku soal cinta di dengarkan nasehatnya. Hingga saat ini di bangku
kuliah mereka masih bersama walau jurusan dan tempat tinggal yang berbeda.
“Let...let !”
“Iya, tunggu !”
Ralin telah menunggu di depan rumah kontrakan Dian.
Ralin memang punya panggilan khusus untuk Dian. Padahal sudah sekian kali Dian melarangnya.
Eh tetap saja dipanggilnya lelet. Seperti biasanya, diperjalanan Dian selalu mendengar celotehannya yang tak
berujung layaknya setahun tak bertemu dengan setumpuk curhatannya. Mungkin Ralin
telah ditakdirkan lahir dengan selaksa curahan hati setiap hari. Untung saja Dian
tipe manusia yang memiliki sedikit kesabaran, apalagi sudah terbiasa dengan
celotehnya. Jika satu hari saja absen dengan curhatan Ralin rasanya bunga-bunga
di taman terlihat layu.
Rasa lelah kembali menggerogoti sukma sepulang
menemani Ralin. Dian merebahkan dirinya di tempat tidur kamarnya yang mulai
kehilangan empuknya. Menatap sejenak telepon genggam yang sunyinya menyaingi
pemakaman umum. Ia letakkan telepon genggamnya dan menatap langit-langit kamar
yang mulai mengantarkannya kembali ke masa itu.
Bel sekolah berbunyi, semua siswa segera berbaris
rapi di lapangan untuk mengikuti upacara bendera senin itu. Di kelas, Dian
masih sibuk mengotak-atik tasnya. Ada satu benda yang ia lupakan dan itu perkara besar. Dian bisa di
hukum karenanya. Ia lupa membawa topi sekolahnya. Tiba-tiba, di depan kelas
melintas sosok laki-laki yang menggunakan seragam putih-putih dengan slayer
kuning yang terikat di lehernya. Dian tersentak.
“Deeen ... Adeeeeen.......!” Dia terlihat melangkah
mundur, Dian bergegas berlari menujunya.
“ Apa kau membawa topi sekolahmu?”
Tanpa berkata-kata dia segera menuju ruang kelas dan
kembali kehadapanku dengan sebuah topi ditangannya. Dia memberi topi, lalu segera
menghilang dari hadapan Dian tanpa sepatah kata. Dian pun bergegas lari menuju
lapangan, karena upacara segera di mulai.
Saat-saat terakhir di SMA menuju ujian nasional. Ada
hal yang tidak disangka. Ada benih yang mulai Ia tanam, Ia tanam di hati. Aden mengungkapkan isi hatinya pada Dian.
Keraguan mulai merangkak masuk ke dalam pikiran. Dulu memang pernah ada rasa di
hati Dian , tapi itu dulu. Seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai hilang
dari dalam hati. Saat Dian mulai kehilangan rasa cinta itu dan menanggapnya sebagai
teman biasa, Aden justru baru mengungkap
semuanya. Rasa di hati Aden telah lama tersimpan sejak sapaan Dian diawal
jumpa. Segala aktivitas kecil, masih ada dalam memori Aden. Rasa sungkan untuk
menolak, menerima juga tidak sanggup. Alasan lain, saat itu Dian masih terlalu
kaku soal cinta. Dian memaksakan hatinya untuk menerima walau kesan tulus itu telah
hilang. Menyembunyikan hubungan dari teman-teman Dian jadikan syarat utama, Ia
menyetujuinya. Bahkan Ralin, serta teman dekatnya yang lain sekalipun tak mengetahui tentang hubungan
ini. Sangat tak Dian percaya mereka
menjalin hubungan lebih dari teman. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang
sedang mencoba permainan baru. Menakutkan, penasaran. Ia ingin mengakhiri
hubungan ini segera. Ia merasa terbebani. Hingga suatu hari, teman dekat Dian
bertanya keanehan yang terjadi padanya dan Aden. Dian selalu berkata tidak . Ia
merasa seperti menjadi wanita termunafik saat itu. Ralin sendiri selalu
berpikir bahwa isu itu hanya fitnah. Di sisi lain, teman-teman Aden mengetahui hubungan
itu. Dengan sendirinya kebohongan Dian diketahui oleh teman-teman Dian. Mereka
marah, Ia merasa terasingkan. Kecuali Ralin, yang selalu menyemangatinya dan
kadang menyalahkan Dian. Ia tak tau apa yang seharusnya Ia lakukan. Tiba masa, Dian
mengakhiri hubungannya dengan alasan yang tidak masuk akal. Perasaannya merasa
lega saat itu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu Dian mulai menyadari bahwa
Ia telah melakukan kesalahan. Tak ada kawan Aden yang berpandangan baik tentangnya.
Mereka seolah marah terhadap tindakan Dian. “Kepada siapa aku harus mengadu ?
kawan dekat? Mereka juga seolah-olah sering mengacuhkanku sebab kebohonganku.
Ralin? Ia yang selalu sibuk , kadang menyemangati kadang menyalahkanku. Kepada
Tuhan? Tidak! Aku terlalu munafik. Aku merasa sangat tersisihkan dari mereka
semua. Aden sendiri, ia tak pernah menghiraukanku. Tak pernah menggangguku di
sosmed. Aku mulai merasakan kerinduan”.
Kehebohan pagi itu, ketika Dian lewat di depan kelas
Aden. Dian hanya menunduk dan berlalu tanpa menghiraukan mereka. Tiba-tiba
datang seorang anak laki-laki menujunya. Laki-laki dengan badan kurus berkulit
putih. Ia biasanya di panggil Oi. Ia adalah sahabat setia Aden. Ia menyampaikan
sebuah berita. Dian saat itu tidak terlalu menghiraukan Oi sebab Oi terlalu
banyak basa-basi. “ Diaaaaaaaan, Aden kecelakaan” ! Dian tersentak dan memalingkan
wajahnya ke arah Oi. “ Hari masih pagi Oi, aku tak butuh leluconmu”. “Aku
serius. Pantang lelaki sepertiku berbohong di pagi hari yang cerah ini !”.
Dengan gaya ala artis koreanya Ia beralih dari hadapan Dian. Pikiran Dian mulai
tak karuan. Rasa bersalah semakin menggerogoti. “ Bagaimana jika dia mati? Aku
belum sempat meminta maaf padanya”. Pikiran dan pertanyaan aneh menari-nari di
kepala Dian. Dian merasa mulai gila dibuatnya. Dian mencoba menanyakan kabarnya
dengan mengirim DM melalui twitter padanya. Lima jam setelah Dian mengirim
pesan, pesannya terbalaskan.
“ Baik. Terima kasih”
Singkat.“Ia tak pernah seperti ini”. Dian mulai
menyalahkan dirinya sendiri. Namun, keegoisan dalam dirinya menentang perasaan bersalahnya. Muncul pikiran
untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan perasaan Aden. Aneh sekali.
Dua hari Aden tak terihat, akhirnya Ia masuk sekolah
juga. Senyuman manisnya di tutupi oleh wajah pucatnya. Ingin rasanya Dian
menyapanya. Tapi keegoisannya kembali membentak tindakan Dian. Ia mengurungkan
niatnya.
Acara prom night malam itu, boleh dikatakan malam
terakhir pertemuan Ia bersama Aden. Mereka sempat bertegur sapa dan berjabat
tangan. Walaupun keesokan harinya Dian mendapat DM di twitternya dari Aden.
“Maafkan, maaf pernah membuatmu terbebani. Terbebani
oleh perasaanku dan sikap kawan-kawanku. Terima kasih pernah singgah di hati.
Aku pamit”.Sejak saat itu, Dian tak pernah lagi bertemu dengan Aden. Kontak dan
semua akun sosialnya kini tak digunakan lagi.
Kembali tersadar Dian dari kenangannya. Terlihat jam
dinding menunjukkan pukul 03:00. Kali ini ia sungguh merasa penyesalannya
membawanya pada kenangan yang tak pernah berhenti. Ia mencoba bangkit. Ada hal
yang tidak pernah disangka dalam hidup ini, setiap kejadian adalah ketetapan.
Di balik ketetapan tersebut selalu ada maksud. Dia hadir dan memberi perubahan
dalam hidup Dian. Memberi keberanian dan mengajarkan tentang ketulusan. “Seharusnya,
aku bersyukur dengan apa yang terjadi. Bukan menyesali atau bahkan mencaci
kehidupanku sendiri apalagi menyalahkan orang lain. Walau ku tahu kini dia tak
lagi disisi, tapi hati ini belajar untuk bersyukur karena aku yakin maksud
Tuhan lebih indah”. Pengalaman mengajarkan kita untuk lebih kuat dan bersyukur.
Tentunya terlepas dari kemungkinan melakukan kesalahan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar